Monday, May 3, 2010

Pemuda Harapan



Tak biasanya dia datang terlambat, tak biasanya dia belum datang pada jam segini. Kemana pemuda itu? Bapak selalu menanyakan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Dua ribu rupiah, hanya itu uang yang tersisa yang diperlihatkan bapak dari saku celananya, hanya itu yang bisa dihasilkan oleh bapak setelah seharian ia menguras tenaga, apa yang bisa diharapkan dari uang segitu.

Cerminan Diri Seorang Muslim



Adalah seorang pemuda yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Ia hafidz, hafal Al-Quran. Namun tidak hanya hafal, ia juga paham terhadap kandungan isi Al-Quran. Dia dikenal di setiap masjid-masjid dan disambut ramah oleh setiap imam di setiap masjid tersebut. Ia pernah menjadi imam hampir di setiap masjid di Mesir, kawasan Hay-10. Tidak banyak orang Indonesia yang pernah menjadi imam di negeri para Nabi, yang notabene banyak terdapat penghafal Al-Quran. Lantunan suaranya yang merdu, membuat para makmum semakin khusyuk menjalani shalat. Ia juga pernah mengikuti beberapa lomba tahfidz dan meraih peringkat di setiap momennya.

Rasa yang Tak Terlupakan




Hawa sore itu terasa dingin tak seperti biasanya, padahal ini baru awal datangnya musim dingin. Angin menari-menari mengayunkan cadar yang dikenakan seorang akhwat yang sedang menunggu bus tepat di depanku. Bukan maksudku berdiri tepat dibelakangnya, hanya saja ini adalah posisi yang paling strategis guna menghindari tiupan angin yang membabibuta. Setiap mataku mengikuti bus yang terus lewat, tak sengaja pandangan mataku singgah ke akhwat tersebut.

Tuesday, March 30, 2010

Ganbatte Kudasai

Sinar mentari lagi-lagi mencoba merasuki kamarku, seakan-akan memaksaku untuk bangkit dari tidur yang panjang berharap agar aku menyambut kedatangannya, megajakku mengiringi alunanya. Kubuka mataku pelan-pelan, dan aku berpikir sejenak tentang diriku, tentang apa yang telah kukerjakan di Kairo ini, tentang waktu yang telah kusia-siakan waktu yang berlalu begitu saja tanpa kompromi, tanpa menungguku, waktu meninggalkanku jauh. Belum ada hal yang berarti yang kuperoleh di negeri yang terdapat berjuta Ilmu di dalamnya, waktuku terbuang percuma selama 2 tahun ini. Sejenak aku termenung memikirkan kemanakah arah tujuan hidupku, akan jadi orang seperti apakah aku ini.

Baiturrahman

Seorang kakek tua melangkah gontai sambil menggilirkan bijian tasbih di tangan kanannya menuju rumah kesangannya. Rumah dagang yang selalu mendatangkan keuntungan, tak pernah rugi. Rumah yang menjanjikan kebahagian abadi. Hanya orang bodoh yang tidak mau datang dan berkunjung ke rumah itu. Rumah itu diberi nama Baiturrahman, sebuah mushala berukuran persegi terletak paling sudut di pinggir Kampung Manggis.